Kamis, 25 Februari 2010

BI 2 : PENULISAN KARANGAN

PENULISAN KARANGAN

Pengertian Mengarang dan Karangan
Sebelum merumuskan pengertian karangan,perlu dipahami terlebih dahulu makna kata mengarang, sebab dr kegiatan yang disebut mengarang itulah dihasilkan suatu karangan. Mengarang berarti ‘menyusun’ atau ‘merangakai‘. Karangan bunga adalah hasil dari pekerjaan menyusun/merangakai bunga. Tanpa ada orang yang merangkai melati.
Pada awalnya kata merangkai tidak berkaitan dengan kegiatan menulis. Cakupan kata merangakai mula-mula terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret sweperti merangakai bunga dan merangakai benda lain. Sejalan dengan kemajuan komunikasi dan bahasa,lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan merangkai kalimat; kemudian jadilah apa yang disebut pekerjaan mengarang. Orang yang merangkai atau menyusun kata,kalimat,dan alinea tidak disebut perangakai. Tetapi penyusun atau pengarang untuk membedakanya misalnya dengan erangkai bunga. Mengingat karangan tertulis juga disebut tulisan, kemudian timbullah sebutan penulis untuk orang yang menuls suatu karangan.
Sebenarnya mengarang tidak hanya dan tidak harus tertulis.Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara,misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta-merta (impromptu), otaknya terlebih dahulu harus megarang sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya “bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraanya agar teratur ,terarah/terfokus,sambil memikir-mikirkan susunan kata,pilihan kata,struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya ( misalnya deduktif atau induktif; klimaks atau antiklimaks). Apa yang didengar atau yang ditangkap orang dari penyajian lisan itu, itulah karangan lisan. Namun, karena tujuan penguraian dalam bab ini terutama mengenai karangan tertulis, pembicaraan tentang karangan lisan tidak dilanjutkan. Uraian singkat tentang mengarang secara lisan tadi dimaksudkan untuk membantu pemahaman akan arti kata mengarang.
Bertalian dengan uraaian diatas,penulis berpendapat bahwa mengarang adalah pekerjaan merangkai kata,kalimat,dan alinea untuk menjabarkan dan atau mengulas topik dan tema tertentu guna memperoleh hasil akhir berupa karangan (bandingkan dengan pekerjaan merangkai bunga dengan hasil akhir berupa rangkaian bunga). Untuk bahan perbandingan perbanndingan,disini dikutipo pendapat Widyamartaya Sudiati (1997:77).Menurut keduanya,mengarang adalah “keseluruhan rangkaian kegiatan seorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya meang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami”.
Adapun pengertian karangan menurut hemat penulis adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topic tau pokok bahasan.Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya mrerupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.


Penggolongan Karangan Menurut Bobot Isinya.
Karangan Ilmiah,Semiilmiah,dan Nonilmiah
Berdasarkan bobot isinya,karangan dapat dibagi atas tiga jenis yaitu (1)karangan Ilmiah, (2) karangan semi Ilmiah atau Ilmiah popular,dan (3) karangan nonilmiah. Yang tergolong ke dalam ilmiah antara lain adalah laporan,makalah skripsi,tesis,disertasi;yang tergolong ke dalam karangan semiilmiah antara lain adalah artikel,editorial,opini,feature,tips,reortase; dan yang tergolong ke dalam karangan nonilmiah antara lain anekdot,dongeng,hikayat,cerpen,novel,roman,puisi,dan naskah drama.
Ketiga jenis karangan tersebut diatas memiliki karakteristik yang berbeda.Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa.Kebalikan dari karangan ilmiah adalah karangan nonilmiah, yaitu karangan yang tidak terikat pada aturan baku tadi;sedangkan karangan semiilmiah berada di antara keduanya.
Yang akan dibahas dalam buku ini hanya dua jenis karangan pertama saja,yaitu karangan ilmiah dan semiilmiah/ilmiah popular karena kedua jenis karangan inilsah yang banyak diperlukan oleh mahasiswa.
Antara karangan Ilmiah dan karangan ilmiah popular tidak banyak perbedaan yang mendasar .Perbedaan yang paling jelas hanya pada pemakaikan bahasa,struktur,dan kodifikasi karangan.Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dibidang ilmu tetentu,dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus di bidang ilmu tertentu,dalam karangan ilmiah popular bahasa yang terlalu teknis tersebut terkadang dihindari.Sebagai gantinya digunakan istilah umum. Jika kita perhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kondifikasi secara ketat dan sistematis,sedangkan karangan ilmiah popular agak longgar, meskipun agak sistematis.

Ciri Karangan Ilmiah dan Semiilmiah.
Sebelum merinci karangan ilmiah dan semiilmiah,ada baiknya jika dipahami terlebih dahulu batasan kedua jenis karangan tersebut. Karangan ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan yang formal dan sistematis-analitis karena sering “dibumbui”dengan opin pengarang yang kadang-kadang subjektif.

Adapun tiga ciri karangan ilmiah.
Pertama karangan ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (factual objektif). Faktual objektif berarti faktanya sesuai dengan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Objektif juga mengendung pengertian adanya sikap jujur dan tidak memihak,serta memakai ukuran umum dalam menilai sesuatu, bukan ukuran yang subjektif (selera perseorangan) objektivitas tersebutlah yang membuat kebenaran ilmiah berlaku umum dan universal. Dengan kata lain, kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan melalui eksperimen bahwa dengan kondisi dan metode yang sama dapat dihasilkan kesimpulan yang sama pula.
Berbeda dengan tulisan ilmiah, sumber tulisan nonilmiah dapat berupa sesuatu yang abstrak dan subjektif,seperti ilusi,imajinasi,atau emosi. Unsure subjektif tersebut itu pulalah yang membuat kebenaran tulisan nonilmiah sangat subjektif atau hanya berlaku untuk orang tertentu saja (tidak umum).
Kedua,tulisan ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur (sistematis) dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Ketiga,dalam pembahasanya tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Laras ilmiah harus baku dan formal. Selain itu,laras ilmiah bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsiran dan makna ganda(ambigu). Ciri lain laras ilmiah adalah menggunakan istilah spesifik yang berlaku khusus dalam displin ilmu masing-masing.
Betapa perlunya menggunakan bahasa yang baik dalam penulisan tidak usah diragukan lagi. Dalam hal ini, seorang pakar penulisan ilmiah, jujun suriassumantri(1986:58) berpesan secara khusus kepada para calon penulis, sebagai berikut.
Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat serta hubungan apa yang terkait antara subjek dan predikat kemungkinan besar akan merupakan informasi yang tidak jelas. Tata bahasa merupakan ekspresi dari logika berfikir,tata bahasa yang tidak cermat pula.Oleh sebab itu,langkah pertama dalam menulis karangan ilmiah yang baik adalah meggunakan tata bahasa yang benar.
Pakar lain, Surakhmat (1979:1) juga mengatakan,”bahasa adalah medium terpenting didalam karangan”. Diingatkanya apabila bahasa yang dipakai kurang cermat, karangan bukan saja sukar dipahami, tetapi juga mudah menimbulkan pengertian.”Bahasa karangan yang kacau juga menggambarkan kekacauan pikiran pengarannya”.tambahnya. Pendapat kedua pakar tersebut kiranya cukup membuat kita sadar akan perlunya menguasai ketrampilan berbahasa tulis sebagai bekal mengarang.

Selain persyaratan kebahasaan,sebuah tulisan ilmiah menuntut adanya persyaratan material dan persyaratan formal (keraf 1980: 229).Persyaratan material mencakup adanya topic yang dibicarakan,tema yang menjadi tujuan atau sasaran penulisan,alinea yang merangkaikan pokok-pokok pembicaraan,serta kalimat-kalimat yang mengungkapkan dan mengembangkan pokok-pokok pembicaraan. Adapun yang dimaksud dengn persyaratan formal adalah tata bentuk karangan.

Penggolongan karangan menurut cara penyajian dan tujuan penyampaian,karangan dapat dibedakan menjadi 6 jenis yaitu :
1. Deskripsi (perian )
2. Narasi ( kisahan )
3. Eksposisi (paparan )
4. Argumentasi (bahasan )
5. Persuasi ( ajakan )
6. Campuran atau kombinasi

Reff :
Finoza, Lamuddin. 2007. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar